Sejatinya
manusia adalah makhluk sosial, betul adanya, dan itu sudah saling membutuhkan.
Tapi kadang terlupa akan pikiran kita yang sering mengambil informasi “katanya”
tanpa pembuktian. Ya “katanya” mungkin manis di dengarkan dan manis di
sampaikan kepada yang lain. Perasaan menolak kadang tidak bisa karena hal yang
menyelimuti pikiran kita yang haus informasi.
Idealnya
“katanya” tak disampaikan begitu saja, tapi kadang dalam dunia pemasaran
“katanya” adalah senjata ampuh yang mematikan pelanggan, akhirnya tergiur.
Bukan menolak tapi menerima, itu biasanya yang terjadi dan terus terjadi jika
kita tak mau belajar menolaknya, sebelum adanya pembuktian.
Menolak
“katanya” juga wajib untuk menjajaki dunia investasi yang pada intinya hanya
menawarkan berbagai macam kelebihan dan tanpa menyampaikan resiko yang
berimbang. “katanya” kadang menggiurkan dan juga mengganti pikiran kita yang
ragu-ragu jadi mau. Awas kemampuan otak yang berputar cepat juga dipengaruhi
oleh buaian yang manis yaitu “katanya”.
Lebih
mengutamakan pembuktian dan cari bukti yang relevan dan banyak dari sumber yang
terpercaya itu lebih baik dari hanya mendengar “katanya”. Memang betul pembuktian butuh waktu yang lama, tapi
sebanding dengan apa yang nanti kita dapatkan juga.
Tugas
selanjutnya kita menjadi seorang investor profesional adalah menolak pikiran
“katanya” tapi menerima pembuktian.
“sedikit
tapi pasti” belajar mengendalikan pikiran adalah penting di segala kondisi.








0 comments:
Post a Comment